Opini

Senin, 01 Agustus 2016 14:24:35

AADW: Ada Apa Dengan Wiranto

Opini

merdeka.com

Menkopolhukam Wiranto

19 Mei 1998..

Ketika itu Jakarta mencekam sesudah tertembak matinya 4 mahasiswa Trisakti. Kerusuhan meluas dimana2, demonstrasi semakin besar.

Harmoko – anak emas Soeharto – yang waktu itu menjabat pimpinan DPR/MPR, melakukan langkah politis yang mengejutkan. Ia bersama beberapa anggota dewan lainnya mengundang media dan menyatakan Soeharto harus mundur. Pernyataan yang bertolak belakang dengan sikapnya dulu yang ingin Soeharto kembali menjabat.

Situasi ini semakin memperburuk keadaan. Pada saat itulah saya mengenal Wiranto – ketika itu ia sebagai Pangab/Menhankam – mengundang media dan di depan mic mengatakan, “bahwa pernyataan Harmoko adalah pernyataan pribadi. Pendapat DPR harus di ambil melalui sidang paripurna oleh seluruh anggota Dewan”.

Saya paham, bahwa Harmoko memanfaatkan situasi untuk membersihkan dirinya dari kotoran orde baru dimana ia berkubang di dalamnya. Ia berbalik mengatas-namakan rakyat, nama yang selalu dipakainya untuk kepentingan diri dan golongannya.

Wiranto berbicara atas nama konstitusi. Ia menjaganya supaya Indonesia tidak keluar dari rel. Posisinya sebagai Panglima ABRI pada waktu itu, membawahi seluruh kesatuan tentara dan polisi, yang memungkinnya untuk melakukan penawaran terbaik dengan berbagai pihak untuk menjadikannya sebagai pimpinan.

Tapi ia tidak melakukan itu, seperti yang dilakukan oleh Abdul Fatah Al Sisi pada saat kejatuhan Mohammad Morsy di Mesir. Jika itu terjadi, Indonesia bisa kembali di bawah pimpinan militer seperti pasca kejatuhan Soekarno.

Posisinya sebagai Pangab, sebagai seorang serdadu, membuat tangannya tidak luput dari darah banyak orang yang mati pada waktu itu, entah itu mahasiswa atau perusuh yang memanfaatkan situasi. Meskipun tidak semua kesalahan bisa ditimpakan padanya, karena pada waktu itu ada gerakan pasukan tersendiri yang dikomandani Prabowo yang ditentangnya. Disinilah bermula rivalitasnya dengan Prabowo.

Saya sudah mendengar bahwa sejak awal Jokowi ingin menempatkannya di kabinet. Tapi Wiranto menolak. Stigma yang diarahkan kepadanya sebagai pelanggar HAM, bisa menyulitkan posisi Jokowi yang pada awal pemerintahan banyak yang menyerang, apalagi ketika itu KMP begitu berkuasa di parlemen. Ketika keadaan sudah tenang dan Jokowi sudah menguasai keadaan, permintaan Jokowi untuk menjadikannya Menkopolhukam menggantikan Luhut Panjaitan tentu tidak bisa di tolaknya.

Saya pernah bertanya pada seorang teman, “Kenapa Wiranto pada waktu itu mau saja mengikuti Hari Tanoe berlaku sebagai pengemis yang diusir satpam, menjadi tukang becak dalam kampanyenya ?”

Jujur saja, dulu hal itu membuat saya geli. Jawaban yang diberikan membuat saya harus menahan diri untuk meminum kopi yang sudah mendingin. “Dulu partai butuh dana besar sedangkan pak Wiranto tidak punya banyak uang..” Sebuah jawaban yang realistis melihat betapa kampanye membutuhkan dana dalam nilai triliunan. Untung saja Tuhan tidak memenangkan mereka pada waktu itu, sang Jenderal bisa saja menjadi boneka beneran jika ia menjadi Presiden.

Meskipun begitu, saya tidak mampu melihat kepentingan Wiranto membentuk Pam Swakarsa, yang membenturkan rakyat dengan rakyat. Mungkin saja itu salah satu kesalahan strateginya seperti kesalahannya berkampanye yang menghilangkan sisi ke-Jenderal-annya. Hanya beliau dan Jonru yang mengerti situasinya. Jonru itu termasuk Tuhan karena sudah menentukan nasib neneknya masuk neraka.

Tentu banyak pertimbangan Jokowi dalam melantiknya sebagai Menkopolhukam. Wiranto dikenal dengan tangan dinginnya mengambil kebijakan terkait pengamanan posisi Presiden dalam melawan “perang” yang dilancarkan musuh politiknya pasca pilpres. Ia penasehat yang handal di belakang layar. Biar bagaimanapun, ia seorang Jenderal yang dididik untuk beradu strategi melawan Jenderal2 yang berada di pihak lawan politiknya.

Penunjukan Wiranto memang termasuk penunjukan yang kontroversial, mengingat tudingan melanggar HAM selalu mengikuti dirinya. Dan saya paham kenapa Jokowi senang, karena Wiranto bukan orang berisik yang mengundang media sekedar memberitahu bahwa dirinya sedang berkonfrontasi dgn seorang di internal.

Kita tunggu gebrakannya.

Semoga kemampuan perang asimetrisnya, bisa meredam perang yang diluncurkan banyak pihak untuk menjatuhkan kredibilitas Presiden dan mengacaukan kesatuan negara ini.

Selamat bertugas kembali, Jenderal… semoga kopi panas ini satu waktu bisa saya angkat untuk anda.


Editor : Ahmad
Sumber : Dennysiregar.com/ada-apa-dengan-wiranto-aadw





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter