Opini

Rabu, 20 Mei 2015 16:04:44

Indonesia dan Krisis Manusia Perahu

Ella Syafputri/Antaranews.com

Ilustrasi

Oleh: Ella Syafputri

Sejarah selalu berulang, namun tidak sepenuhnya sejarah terjadi persis seperti pada masa lalu. Pada akhir 1970-an, Indonesia menerima manusia perahu asal Vietnam dan menempatkan mereka di Pulau Galang, Kepulauan Riau.

Krisis manusia perahu di Asia Tenggara itu bermula dari perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang memaksa ribuan warga Vietnam meninggalkan negeri mereka demi kehidupan yang lebih baik.

Sebuah buku yang disusun oleh Isya Ismayawati berjudul "Manusia Perahu, Tragedi Kemanusiaan di Pulau Galang" tahun 2013 menjelaskan bagaimana krisis manusia perahu Vietnam pada saat itu ditangani oleh Indonesia.

Selama berbulan-bulan, mereka terapung di Laut China Selatan dan tak sedikit yang tewas akibat kelaparan, kehausan, kelelahan, atau dibunuh bajak laut.

Bersama dengan UNHCR, badan yang menangani pengungsi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia menyediakan Pulau Galang sebagai fasilitas permukiman khusus bagi pengungsi Vietnam sebelum akhirnya dikirimkan ke negara-negara ketiga.

Sejarah pengungsian 250.000 orang manusia perahu Vietnam itu masih tersimpan baik di Pulau Galang. Ada rumah sakit, barak, sekolah, bahkan penjara.

Selama lebih dari 17 tahun, mereka tinggal di pulau yang luasnya sekitar 250 hektare itu dan berbagai foto-foto para pengungsi masih bisa disaksikan dengan susunan yang rapi.

"Kesuksesan negara kita menangani pengungsi Vietnam selama dua dekade jarang diketahui masyarakat," tulis sejarahwan Dr Asvi Warman Adam mengomentari buku ini.

Sejarahwan LIPI itu menegaskan bahwa buku ini memperlihatkan sisi humanisme bangsa Indonesia sekaligus menunjukkan keberhasilan politik luar negeri Indonesia pada lingkup regional Asia Tenggara.

Bagaimana dengan krisis manusia perahu yang melanda Indonesia hari ini? Akankah kesuksesan serupa dapat terukir?.

Ujian Kemanusiaan

Indonesia hari ini adalah Indonesia dengan ujian kemanusiaan yang tidak sederhana. Ada ribuan orang yang terombang-ombing di Laut China Selatan nan ganas. Sebagian besar mereka terjebak dalam rantai perdagangan manusia, bisnis besar dan kian menggurita setelah banyak perang dan kekerasan terjadi di banyak negara di dunia.

Bulan ini, ada ribuan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh yang mencoba bisa mendarat di daratan dan melepaskan diri dari ancaman kematian akibat kelelahan, kelaparan, dan kehausan di laut. Ini adalah krisis manusia perahu terbesar di Asia Tenggara setelah Perang Vietnam di tahun 1970-an.

Khusus pengungsi asal Bangladesh, negeri itu sudah berkomitmen untuk memulangkan mereka dari Indonesia dan Malaysia.

Tapi, hal itu berbeda untuk mereka yang dari Myanmar. Mereka adalah etnis Muslim Rohingya. Tubuh-tubuh kurus dan tatapan mata pria-wanita, dewasa-anak-anak yang penuh pengharapan mengisi berbagai berita televisi, koran, dan laman berbahasa Indonesia dan Inggris.

Mereka adalah manusia-manusia yang tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar. Kulit mereka yang gelap berbeda dengan kebanyakan orang di Myanmar, terlebih agama mereka yang bukan Buddha.

Laman BBC sekitar dua tahun lalu pernah merilis tulisan Alan Strathern peneliti di Universitas Oxford tentang latar belakang penindasan yang dialami Muslim Rohingya di Myanmar.

Dengan judul "Kenapa Biksu Buddha menyerang Muslim?", tulis itu menyajikan bahasan latar belakang yang menjadi sangat kunci untuk menjelaskan pengingkaran pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya.


Editor : Hamdan
Sumber : Ella Syafputri/Antaranews.com
2  Next





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter