Opini

Senin, 06 April 2015 13:29:03

Gubenur Ahok dan Bahasa Toilet

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

Oleh: A.A. Ariwibowo

Bahasa toilet? Secara jenaka tetapi bermakna, dua kata itu dapat merujuk kepada pesan seorang ibu kepada buah hatinya yang beranjak dewasa, bahwa jangan merokok di meja makan ketika digelar jamuan makan bersama tamu terhormat, atau jangan menarik ingus di hidung di hadapan lawan bicara yang memunculkan suara mirip derit ban roda mobil meliuk di sirkuit jalanan.

Bahasa toilet mengemuka ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengeluarkan beberapa kali "kata-kata toilet" ketika menjawab pertanyaan penyiar Kompas TV, Aiman Witjaksono seputar tuduhan dirinya mencoba menyuap Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi senilai Rp12,7 triliun. Wawancara itu disiarkan secara langsung.

Bahasa toilet berpunggungan dengan bahasa sopan santun. Kalau lampu hijau lalu lintas menyala, maka pengendara tanpa kecuali wajib menghentikan kendaraannya, kecuali ada sejumlah alasan  mendesak. Toh, seseorang merasa terdesak ketika ia hendak membuang hajat besar atau hajat kecil, kemudian ia mengajukan pertanyaan, "di mana toilet?" Setelah itu...rasanya plong.

Bahasa sopan santun diajar dan dihapal di sekolah-sekolah dasar dan menengah dengan dipandu kata "maaf seribu maaf". Kalau seorang murid sekolah kedapatan tidak mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, maka ia bisa meminta pemaafan begitu saja kepada sang guru, "Maaf, bu guru, hari ini saya tidak mengerjakan pekerjaan rumah."

Sebagai pemulih atas kealpaan itu, Ibu atau Bapak Guru meminta murid yang alpa itu menulis seratus kali kalimat di atas bukunya, "Saya akan lebih belajar giat dengan mengerjakan pekerjaan rumah." Ratusan kalimat itu harus diserahkan keesokan hari. Dan sang murid langsung melakukan perintah sang guru tanpa bertanya sana-sini, tanpa tengok kanan tengok kiri.     

Gubernur Basuki berusaha berlaku sebagai murid yang baik di sekolah bernama DKI Jakarta. Setelah mengucapkan kata-kata toilet, ia meminta maaf kepada masyarakat. "Aku perlu belajar lagi. Kata Pak JK (Wapres Jusuf Kalla), aku boleh keras dan tegas, tetapi jangan kasar. Ini kan soal belajar. Aku kira 'bahasa toilet' itu biasa saja, tetapi ternyata kasar," kata Basuki di Balai Kota, Selasa (24/3/2015).

Tercetus tanya, mengapa terlontar bahasa toilet? Ada krisis akal sehat! Dengan terang benderang, Gubernur Basuki merumuskan krisis akal sehat dengan menyatakan, "Kalau kamu hidup di tengah-tengah masyarakat yang begitu miskin, sementara oknum pejabat nyolong uang gila-gilaan dan dengan santun gaya bahasa agama, kamu muak nggak kira-kira?"

Pernyataan blak-blakan dengan menggunakan bahasa toilet dari Gubernur Ahok di Balai Kota pada Jumat (20/3/2015) itu merujuk kepada krisis akal sehat seputar penggunaan uang. Bukankah selarik ungkapan Latin klasik menyamakan uang dengan bau kotoran toilet.

"Pecunia non olet", uang tidak pernah berbau. Terjemahan bebasnya, siapa pun menyukai dan mengejar uang. Latar belakang ungkapan ini, adalah ketika Kaisar Vespasianus ingin menerapkan pajak kamar mandi dan peturasan umum. Banyak warga masyarakat waktu itu yang menentang prakarsa itu. Kaisar kemudian berucap, "pecunia non olet".


Sumber : A.A. Ariwibowo/ Antara
2 3  Next





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter