Opini

Selasa, 17 Maret 2015 14:02:56

Rupiah Terus Melemah, Rakyat Menjerit

Gambar Ilustrasi

Oleh: Budi Sulistyo

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus melemah. Hingga Selasa, 17 Maret 2015, tercatat berkisar Rp13.200, setelah sempat melorot hingga Rp13.245 per USD.

Kalau dicermati sejak Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dilantik menjadi presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2014 lalu, Rupiah terus mengalami penurunan. Rupiah sempat menguat menjelang pemilu dan sesaat setelah pasangan Jokowi-JK terpilih. Saat itu Rupiah naik hingga Rp11.505, namun kembali melemah menjelang pelantikan. Saat pelantikan Rupiah bertengger di angka Rp11.995 per USD.

Secara sederhana dapat dilihat pelemahan Rupiah setiap bulan sejak pemerintahan Jokowi-JK hingga memasuki bulan ke lima pemerintahannya turun rata-rata sekitar Rp241 per bulan. Prediksi banyak analis yang sebelumnya optimis setelah Jokowi menjadi presiden akan ada  Jokowi Effect  yang bakal mengerek Rupiah hingga ke level di bawah Rp10.000 per USD tidak terbukti.

Mengutip pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) dari Antara (4/3), pelemahan Rupiah hanya bersifat sementara dan tidak perlu dikhawatirkan. Saat pernyataan Gubernur BI Agus Martowardojo nilai Rupiah Rp12.963 per USD. "Jangan terlalu khawatir dengan kondisi Rupiah. Rupiah saat ini masih dalam keadaan baik".

Tidak dapat dipungkiri melemahnya nilai tukar Rupiah akan mempengaruhi stabilitas ekonomi di dalam negeri. Defisit neraca perdagangan akan semakin lebar. Pemerintah mengakui sulit menurunkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang tahun ini diproyeksi dikisaran 3 persen. Ekonom memperkirakan CAD akan melebihi prediksi Bank Indonesia (BI) 3,1 persen hingga akhir tahun yang membuat nilai impor bisa meningkat.

Terlebih lagi besarnya ketergantungan dalam negeri akan barang impor makin membuat inflasi sulit dikendalikan. Harga bahan baku meninggi, sementara harga jual sulit dinaikan karena daya beli masyarakat sudah menurun. Saat bersamaan harga berbagai kebutuhan masyarakat sudah melambung, seperti bahan bakar minyak (BBM), Gas, beras, sayur-mayur, tarif transportasi, dan sebagainya.

Kejatuhan mata uang juga sebagai tanda turunnya kepercayaan investor terhadap negara. Imbasnya, modal asing tidak masuk, rencana pembangunan proyek-proyek infrastruktur misalnya akan melambat, atau boleh dikatakan akan berhenti.

Effek domino pelemahan Rupiah berlanjut menyentuh kepada urusan perut. Sebagai contoh mayoritas masyarakat kita yang terbiasa makan tempe terkena imbasnya. Tempe akan jadi barang mahal karena kedelai sebagai bahan masih diimpor.  Di sejumlah pasar tradisional di Bantul, Yogyakarta, misalnya, harga kedelai sudah merangkak naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 perkilogram. Belum lagi yang lain, di mana kebutuhan pokok setiap sisi kehidupan kita masih tergantung dari impor.


Editor : Hamdan
2  Next





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter