Opini

Senin, 23 Februari 2015 15:19:46

Gurindam Dua Belas dan Kebebasan Pers

Pulau Penyengat, Kepulauan Riau

Oleh: Ruslan Burhani

Gurindam Dua Belas karya sastrawan Melayu pada awal abad 19, Raja Ali Haji, merupakan kebijaksanaan lokal (local wisdom) masyarakat Melayu-Bugis. Gurindam Dua Belas yang berasal dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau itu menyimpan warisan nasehat yang nilai-nilainya masih relevan hingga saat ini.

Raja Ali Haji merupakan cendekiawan yang lahir dan wafat di Pulau Penyengat. Ia merupakan orang pertama yang memberikan definisi lengkap tentang gurindam. Budaya tutur orang Melayu begitu kental, sehingga banyak karya yang anonim. Bahkan sebelum abad 19 hanya sedikit yang mengetahui siapa yang mengarang, menyalin, serta mencipta kata-kata mutiara.

Gurindam apabila melihat dari akar kata berasal dari bahasa Tamil "kirindam" yang artinya umpama. Gurindam adalah kata-kata mutiara yang berbentuk puisi yang umumnya berupa nasihat.

Sebagai akar dari sastra Melayu yang tertulis, Gurindam Dua Belas membahas persoalan akidah dan tasawuf, syariat Islam, rukun Islam, budi pekerti atau akhlak, serta konsep pemerintahan. Gurindam yang terdiri dari kata pengantar dan 12 pasal yang berisikan penjelasan mengenai berbagai kehidupan manusia. Tiap-tiap pasalnya berisikan nasehat yang menyentuh jiwa dan kesadaran masyarakat.

"Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama". Dari petikan nasehat Pasal Pertama sudah dapat dirasakan pandangan filosofis budaya Melayu yang mengurat akar dengan ajaran agama Islam.

Raja Ali Haji menekankan pentingnya agama untuk dipegang oleh seseorang. Hanya orang-orang yang beragama yang namanya pantas untuk disebutkan. Kemudian penekanan pentingnya memegang teguh agama berlanjut ke baris-baris berikutnya seperti di bawah ini:

"Barang siapa mengenal Allah,

suruh dan tegahnya tiada ia menyalah".

"Barang siapa mengenal diri,

maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri".

"Barang siapa mengenal dunia,

tahulah ia barang yang terperdaya".

"Barang siapa mengenal akhirat,

tahulah ia dunia mudharat".

Dapat diartikan orang yang mengenal agama akan mengetahui dirinya dan mengenal Tuhannya, sehingga tidak salah melangkah setiap perbuatannya di dunia. 

Mengutip dari artikel yang ditulis Faurina Anastasia pada April 2012, Gurindam Dua Belas berisi himbauan dan nasehat Raja Ali Haji kepada masyarakat Pulau Penyengat, masyarakat Melayu secara khusus, dan setiap pembaca secara umum.

Menurut Hendrik M.J. Maier, Raja Ali Haji adalah pengarang Melayu pertama yang mulai membuka tabir anonim sastrawan Melayu.  Raja Ali Haji dapat lebih mengenal sebagai pribadi melalui penerbitan surat menyurat pribadinya dengan sarjana kelahiran Jerman yang pernah tinggal di Tanjung Pinang, Von de Wall, antara tahun 1855 hingga 1870. Dapat dikatakan, Raja Ali Haji mulai memperkenalkan budaya tulis di kalangan cendekiawan Melayu.

Hal itu tergambar dalam kata pengantar Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji telah menyebutkan tanggal penulisan karya, hingga menuliskan arti gurindam, perbedaan gurindam dengan syair, serta manfaat gurindam. Ia menjelaskan Gurindam sebagai syair yang hanya terdiri dari 2 larik dan saling berkaitan. Jika larik pertama adalah sebab, maka larik kedua adalah akibat. Jika larik pertama adalah pertanyaan, maka larik kedua adalah jawaban.


Editor : Hamdan
2  Next





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter