Asal Tahu Aja

Jum'at, 15 April 2016 17:02:32

Ini Penjelasan Ilmiah Mengenai De Javu

Asal Tahu Saja

Ilustrasi

BACAINI, Texas - Anda pasti pernah berjalan ke sebuah ruangan baru dan merasa pernah ke sana sebelumnya. Seperti dalam fiksi ilmiah, anda seolah pernah berjalan ke masa depan. Siatuasi ini, dikenal sebagai deja vu. Dalam bahas Perancis, deja vu berarti sudah melihat. 

Deja vu terjadi pada 60-80 persen orang. Deja vu adalah fenomena yang hampir selalu cepat berlalu dan tampak nyata setiap saat. Meski telah banyak dialami manusia, deja vu masih sering salah dipahami oleh komunitas ilmiah. 

Michelle Hook, asisten profesor di Departemen Neuroscience dan Therapeutics Eksperimental, di Texas A & M Health Science Center College of Medicine, mengatakan karena tak jelas, stimulus diidentifikasi sebagai deja vu (ini adalah laporan restropektif dari individu). “Sangat sulit mempelajari deja vu di laboratorium,” kata Hook. 

Menurut banyak penelitian, sekitar dua per tiga orang mengalami setidaknya satu episode deja vu dalam hidupnya. “Memahami cara kerja penyimpanan memori, memberi titik terang sebab orang yang mengalami deja vu lebih banyak,” kata Hook. 

Episode deja vu mungkin terkait erat dengan cara memori disimpan dalam otak. Ingatan kenangan jangka panjang, peristiwa, dan fakta-fakta disimpan di lobus temporal. Lobus temporal adalah tempat anda membuat dan menyimpan kenangan. Bagian-bagian dari lobus temporal tak terpisahkan untuk mendeteksi peristiwa tertentu yang familiar. 

Hubungan antara deja vu, lobus temporal, dan daya ingat masih belum diketahui. Tapi ada petunjuk tentang orang yang mengalami deja vu, menderita epilepsi pada lobus temporalnya. Kondisi ini terjadi saat aktivitas sel saraf di otaknya terganggu. Temuan menunjukkan deja vu dapat disebabkan oleh kerusakan ‘listrik’ di otak.

Epilepsi ditandai dengan disfungsi aktivitas neuron (sel saraf) di otak yang mengganggu sistem elektrik impuls. Gangguan ini bisa “membakar” neuron. “Kebakaran” ini bisa menyebar ke seluruh otak dan memicu kejang. 

“Laporan klinis menunjukkan beberapa pasien yang menderita epilepsi lobus temporalis mengalami deja vu, semacam sebagai peringatan sebelum terjadi kejang," kata Hook.


Editor : Ahmad
Sumber : Tempo.co
2  Next





Peringatan : Komentar di bawah ini diluar tanggung jawab Bacaini.com !

Comments



Terpopuler
Copyright © 2014 BACAINI.COM. All Rights reserved.
free website hit counter